Mimpi Itu Nyata

Mimpi Itu Nyata
Indahnya bermimpi

Minggu, 12 Februari 2012

Belajar Memahami Kegagalan Dari Thomas Alfa Edison

Penulis : Dr.-Ing. L.M.F. Purwanto

Thomas Alfa Edison, penemu lampu, pada mulanya dianggap bodoh oleh gurunya, sehingga dia dikeluarkan dari sekolahnya. Ibunya memutuskan untuk mengajari sendiri anaknya, karena tak ada sekolah yang mau menerimanya.
Karier penemuannya diawali setelah membaca buku School of Natural Philosophy karya RG Parker (isinya petunjuk praktis untuk melakukan eksperimen di rumah) dan Dictionary Of Science. Ibunya lalu membuatkan sebuah Laboratorium kecil buat dia.
Penemuan terbesarnya adalah Lampu pijar. Namun sebenarnya Thomas Alfa Edison telah menemukan banyak alat dan telah dipatenkan. Penemuan yang dipatenkannya tercatat sebanyak 1.093 buah. Pada saat menemukan Lampu Pijar ini Thomas Alfa Edison mengalami kegagalan sebanyak 9.998 kali. Baru pada percobaannya yang ke 9.999 dia berhasil secara sukses menciptakan lampu pijar yang benar-benar menyala terang. Pada saat keberhasilan dicapainya, dia sempat ditanya: Apa kunci kesuksesannya. Thomas Alfa Edison menjawab: “SAYA SUKSES, KARENA SAYA TELAH KEHABISAN APA YANG DISEBUT KEGAGALAN”. Bayangkan dia telah banyak sekali mengalami kegagalan yang berulang-ulang. Bahkan saat dia ditanya apakah dia tidak bosan dengan kegagalannya, Thomas Alfa Edison menjawab: “DENGAN KEGAGALAN TERSEBUT, SAYA MALAH MENGETAHUI RIBUAN CARA AGAR LAMPU TIDAK MENYALA”. Luar biasa, Thomas Alfa Edison memandang kegagalan dari kaca mata yang sangat positif. Kegagalan bukan sebagai kekalahan tapi dipandang dari sisi yang lain dan bermanfaat, yaitu mengetahui cara agar lampu tidak menyala.
Cara pandang positifThomas Alfa Edison, tidak menyurutkan semangat, bahkan tetap mampu meyakinkan orang lain untuk mendanai “Proyek Gagal” nya yang berulang-ulang. Ini juga satu hal yang luar biasa. Adakah kita mampu menyakinkan orang untuk mendanai riset kita yang telah gagal berulang-ulang? Tentu bukan pekerjaan yang mudah bukan?
Mari kita belajar banyak dari Thomas Alfa Edison ini.


Dr.-Ing. L.M.F. Purwanto
Ketua Lembaga Jaminan Mutu Pendidikan
Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Minggu, 22 Januari 2012

Bayangan Menembus Pelangi

Penulis: Rizky Ananda  
Sulit dipercaya, aku yang sekarang ini dapat berdiri dengan tegarnya menatap cahaya terang dihadapanku. Lamunanku buyar ketika mengingat kerasnya perjuangan dan impianku di masa ketika semua impianku dipandang sebelah mata oleh setiap orang yang mendengarnya.
Mungkin aku pantas untuk diremehkan, bagaimana tidak, aku dengan segudang mimpi yang ingin selalu meraih kebahagiaan yang menurutku sangat istimewa namun pada kenyataannya aku hanya bermimpi saja dan tidak disertai dengan usahaku. Selama ini aku tak pernah berbuat apa-apa untuk meraih mimpiku. Aku mengerti bahwa pada dasarnya hasil yang didapatkan pasti akan sebanding dengan  apa yang telah kita lakukan. Aku sangat mengetahui hal itu, bahkan sangat memahaminya namun dasar aku yang memang orangnya pemalas sehingga hanya bisa berteori dan pada akhirnya aku tak mampu berbuat apa-apa.
Kini usiaku telah 20thn, entah prestasi apa yang dapat kubanggakan terhadap orang disekelilingku terutama pada Orangtua ku. Terkadang aku terlalu berambisi untuk menggenggam dunia namun apalah daya, aku yang hanya bisa bermimpi yang tak disertai dengan usaha yang sebanding dengan mimpi-mimpiku. 20 tahun bukanlah waktu yang tak singkat, banyak orang mampu memanfaatkan setiap umur mereka menjadi suatu hal yang dapat membanggakan bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain, dapat menjadi inspirasi orang banyak dengan begitu banyak pengalaman yang mereka alami. Dan tak sedikit pula orang yang tidak mampu memanfaatkan hidupnya selama 20 tahun terakhir, dan diantaranya adalah aku, aku yang hanya besar omong namun ciut dalam bertindak.
Aku yang selalu sombong dengan prestasi yang kuraih yang menurut orang lain prestasi tersebut tak lebih kecil dari prestasi-prestasi yang patut disombangkan. Aku yang selalu haus dengan pujian dan tak tahan dengan kritikan. Walau ku tau bahwa pujian lah yang akan menjatuhkan aku kelak. Aku terlalu takut akan semua risiko yang akan kuhadapi. Ketakutanku semakin besar hingga kurasakan ada tembok besar yang mengelilingiku dan menjadi penghalang disetiap gerak gerikku.  
 Hingga pada suatu hari aku sadar bahwa aku tak bisa hidup seperti ini, aku harus berubah, aku harus menghancurkan tembok itu. aku ingin menjadi yang baru tak cuma bermimpi tingkat tinggi namun berusaha untuk meraih mimpi-mimpi tersebut. Akhirnya aku tau mengapa Tuhan menciptakan satu mulut dan dua telinga, serta dua kaki dan dua tangan untuk untuk manusia, mungkin karena manusia dituntut untuk lebih sering mendengarkan dari pada berbicara, kita harus lebih sering melakukan aktivitas dengan kaki sebagai tumpuannya.
  Berlalu biarlah berlalu, aku akan menganggap itu sebagai guru kehidupanku, karena sebaik-baiknya guru adalah pengalaman kita sendiri. Kini dipikiranku adalah bagaimana caranya hidupku harus berubah, aku ingin hari ini menjadi lebih baik dari pada hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari pada hari ini.
Aku mulai fokus pada tujuanku, telah banyak waktu yang kubuang dengan percuma. Hingga akhirnya pada suatu hari, mimpi itu tak sekadar mimpi, mimpi itu telah berubah menjadi kenyataan yang sangat indah. Aku yakin semua hal yang aku dapatkan sekarang ini bukanlah suatu yang kebetulan, penuh perjuangan dan semangat pantang menyerahlah yang membuatku seperti ini.
Cahaya itu kini mulai tegar memancarkan sinarnya, cahaya yang selalu menunggu datangnya senja, menembus dinding awan tebal bergumpal kehitaman. aku yakin, cahaya itu akan bermanfaat untuk peradaban seluruh umat manusia dimuka bumi ini. Indah hari ini akan selalu terukir dalam diri dan tergoreskan dalam tinta sejarah hidupku.

Senin, 09 Januari 2012

Perjuangan Sang Pemimpi

Penulis : Rizky Ananda

Aku yang selalu bermimpi menembus awan dan menginjak tempat tertinggi yang diselimuti dengan lembut, putih dan indahnya salju, dan mencoba untuk pergi jauh dari gua kehidupanku yang kelam yang selalu takut akan bayangan luar namun itu ternyata hanya halusinasiku yang telah mencapai titik tertinggi dari rasa takut yang begitu besar, dan ketakutan itu akan segera sirnah bersamaan dengan besarnya mimpi-mimpiku yang harus aku wujudkan dan kuperlihatkan kepada orang – orang terbaikku.
 Perkenalkan, nama lengkapku Rizky Ananda, tapi sejak kecil aku dipanggil Nanda, aku lahir dari keluarga yang bisa dikatakan cukup sederhana namun memiliki banyak impian, ayahku berasal dari Medan tapi keturunan Jawa karena Kakekku orang Jawa Timur sedangkan Ibuku asli orang Padang, aku anak kedua dari empat bersaudara. Jika ditanya, aku orang mana, maka aku selalu berfikir sejenak dan berusaha mengingat dimana tanah kelahiranku. Aku yang dilahirkan di Riau, Pekanbaru pada tanggal 15 Oktober 1991, tepatnya di Perkebunan kelapa sawit tempat orang tua ku bekerja. Aku menempuh pendidikan Sekolah Dasar di Medan kota kelahiran ayah ku, Alhamdulillah aku disana termasuk salah satu murid berprestasi, ini dibuktikan karena awal sekolah aku sudah menjadi juara 2 dikelasku hingga kelas 2 SD, namun predikat murid berprestasi itu hilang dariku setelah aku pindah sekolah ke kota, aku menjadi anak malas sehingga nilai raporku selalu “merah”. Setelah mengalami 5 kali pindah sekolah dasar, akhirnya pada tahun 2003 aku lulus SD, dengan nilai seadanya aku melanjutkan sekolah di SMPN 8 Cimahi, tak ada yang aneh selama aku terdaftar di SMP tersebut, setelah 3 tahun aku lulus dengan nilai ya bisa dikatakan baik, setelah itu aku meneruskan sekolah ke SMAN 4 Cimahi yang letaknya bersebelahan dengan sekolahku yang lama, sebenarnya SMPN 8 Cimahi dan SMAN 4 Cimahi hanya dibatasi satu tembok setebal 15 cm dengan tinggi sekitar 3 meter. Aku sudah tidak merasa aneh dengan kondisi jalan di sekolah yang baru.
Di SMA ini lah semua cita-cita dan Impianku mulai aku tanamkan dalam diri, aku yang ingin sekali membahagiakan kedua orang tuaku, disitu aku berfikir hanya dengan rangking satu lah aku dapat memberikan hadiah terbaikku untuk orang yang paling aku cintai dan paling aku sayangi, walaupun ku tahu itu tak akan mungkin terbalaskan dengan semua yang pernah diberikan Ayah dan Ibu kepada ku selama aku hidup di dunia ini. Aku mulai sangat giat belajar dan mulai serius dengan sekolahku, siang malam aku selalu belajar dengan motivasi terbaik ku yaitu senyum kedua orang tua. Dengan Guru-Guru yang Super hebat yang selalu memberi Motivasi untuk tetap melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, disitu aku mulai sadar betapa pentingnya pendidikan bagiku, dalam hati aku selalu membuat rencana-rencana untuk mengembangkan diriku, aku menjadi teringat suatu hadist yang berbunyi; “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya”. Hadist itu lah yang menjadi batu loncatan untuk diriku agar dapat merubah hidupku menjadi lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi.
Walaupun pada kelas satu aku mendapat peringkat 9 di kelas, itu tak mematahkan semangatku untuk terus mengasah otakku dan mewujudkan semua impianku, dan akhirnya setelah aku naik ke kelas dua dan aku mengambil Jurusan IPA karena disaat itu aku tak begitu berminat untuk masuk jurusan IPS. Dan akhirnya aku berhasil mendapat peringkat 2 di kelas lalu semester berikutnya aku menjadi peringkat 1 di kelas, tak puas dengan itu, setelah aku naik ke kelas 3 gelar ranking satu pun tetap kupertahankan.   Semasa di SMA aku mengikuti banyak organisasi intrakurikuler maupun ekstrakurikuler di sekolah, yaitu diantaranya mengikuti Pramuka, Tim UKS, dan Club Bahasa Inggris. Walaupun aku mengikuti beberapa organisasi aku tetap dapat mempertahankan ranking satu ku.
ketika di kelas tiga SMA, aku berkeinginan untuk meneruskan kuliah di bidang Pertanian, kenapa aku memilih berkuliah dibidang pertanian yaitu untuk meneruskan cita-cita ayahku yang sempat padam, dengan selalu mencari berbagai informasi mengenai perguruan tinggi yang cocok untuk ku. Dengan bermodalkan nilai rapor dan sertifikat yang aku dapat selama mengikuti berbagai kegiatan di sekolah maupun luar sekolah, aku mencoba untuk mendaftarkan diri ke IPB melalui jalur PMDK dengan pilihan jurusan Manajemen Agribisnis. Dan satu bulan kemudian aku mendaftar di Politeknik Negeri Bandung jurusan Teknik Mesin melalui jalur yang sama, dan 2 minggu kemudian aku mendapat informasi dari media cetak bahwa ada beasiswa penuh dan mendapat biaya hidup selama kuliah di Universitas Padjadjaran, aku pun mencoba untuk mencoba mendaftarkan diri dan mengambil Program Studi Teknik Pertanian. Setelah satu bulan kemudian aku mendapat surat dari pihak Institut Pertanian Bogor bahwa aku “diterima” di Jurusan Manajemn Agribisnis, lalu dengan wajah yang masih sangat tidak percaya dengan surat ini maka aku mencoba untuk membacanya secara perlahan untuk memastikan bahwa surat ini tidak salah alamat: “Saya Ucapkan Selamat Kepada RIZKY ANANDA Yang Telah Diterima Di Jurusan MANAJEMEN AGRIBISNIS”, yang saat itu telah yakin bahwa aku dinyatakan lolos masuk IPB begitu lebarnya senyum Ayah dan Ibuku dikala itu. Namun aku terdiam disaat aku meneruskan membaca isi surat itu, kecemasan orang tua ku akan biaya kuliahnya yang mencapai jutaan rupiah. Ayah ku selalu meyakinkanku bahwa aku harus tetap kuliah, namun aku tahu, pada saat itu ekonomi keluargaku sedang krisis, meski aku mendapat potongan biaya kuliah aku tetap tidak dapat membayar biaya kuliah yang bagi keluargaku itu cukup mahal.
Satu minggu setelah surat dari IPB aku terima, aku pun mendapat informasi bahwa pengumuman beasiswa bidikmisi akan diumumkan hari itu melalui Internet, aku yang selalu berdoa dan berharap semoga diterima di Universitas Padjadjaran melalui jalur Beasiswa Bidikmisi, melihat hasil pengumumannya dan Alhamdulillah aku diterima di Universitas Padjadjaran yang menjadi Universitas impian setiap siswa SMA se-Indonesia, aku di terima pada Program studi Teknik Pertanian, Jurusan Teknik dan Manajemen Industri Pertanian. Saat itu aku yang tak dapat membendung rasa bahagia yang menjalar diseluruh tubuhku, langsung bersujud syukur kepada Allah SWT yang telah mengabulkan semua Do’a ku. Dengan rasa bangga aku memberitahukan kepada Ayah dan Ibuku. Rasa kebahagiaanku membesar ketika melihat senyum hangat Ayah dan Ibuku, aku tak mampu berkata-kata, aku tak mampu berbuat yang lain selain memeluk Ayah dan Ibu sembari mengucapkan “Ayah, Ibu terima kasih atas semua perhatian dan do’a mu sehingga aku dapat diterima di Universitas Padjadjaran tanpa Tes dan tidak membayar uang pendaftaran dan uang perkuliahan (kuliah gratisss) serta mendapatkan biaya hidup selama kuliah.
Setelah 3 hari berlalu aku mendapatkan surat dari rektorat Politeknik Negeri Bandung yang didalamnya bertuliskan “Selamat Anda Diterima di Politeknik Negeri Bandung pada jurusan Teknik Mesin.
Aku sangat bingung dihadapkan oleh tiga pilihan yang sangat menentukan aku di kemudian hari, kesempatan yang mungkin tidak semua orang mendapatkannya, Pada akhirnya, dengan atas nama Allah, aku membulatkan tekat untuk memilih Universitas Padjadjaran sebagai tempat dimana aku meneruskan pendidikan ku dan menjadi seorang Sarjana Teknologi Pertanian, karena ini sangat sesuai dengan cita-citaku yang sangat ingin menjadi Insinyur di bidang pertanian (walau gelar Insinyur telah tidak ada lagi), atau yang sekarang disebut dengan Sarjana Teknologi Petanian.
Sejak saat itu aku mulai giat belajar untuk menghadapi Ujian Nasional, dan menyongsong pendidikan baru di Universitas Padjadjaran. Alhamdulllah aku tetap mempertahankan predikat ranking satu ku hingga semester akhir, dan aku pun lulus SMA dengan nilai yang memuaskan.
Ketika sekolah mengadakan perpisahan kelulusan siswa, aku pun dinobatkan menjadi salah satu dari 6 siswa berprestasi, tak hanya itu, aku yang sering berkunjung ke Perpustakaan sekolah, dinobatkan menjadi siswa ter rajin ke perpustakaan.
Dalam hati aku berfikir, apakah ini suatu keberuntungan yang datang pada ku ataukah ini hasil dari kerja kerasku selama ini untuk membahagiakan orang tua, serta hasil dari belajar yang tekun dan pantang menyerah untuk mewujudkan cita-citaku dimasa mendatang.
Lalu “Nikmat Allah SWT mana kah yang engkau dustakan??”